Satu orang anggota kepolisian atas nama Brigadien Sinton dikabarkan ditemukan tewas di Sungai Mamberamo setelah ditembaki ketika hari pencoblosan untuk momen Pilkada Serentak 2018. Sinton sendiri adalah satu dari 3 orang yang hilang ketika terjadi penyerangan di Torere, Puncak Jaya, Papua, pada hari Rabu (27/6) lalu.

Petugas Pilgub Papua ditembaki, Tiga Tewas

Hari Kamis (28/6) lalu masyarakat Indonesia dikejutkan dengan adanya berita bahwasanya pasukan keamanan pemilihan gubernur-wakil gubernur yang mana bertugas di Distrik Torere, Kab Puncak Jaya, Papua, diadang dan akhirnya ditembak kelompok agen togel online yang tidak dikenal pada hari Selasa (26/6). Paling tidak ada 3 orang yang meninggal dalam peristiwa naas tersebut.

Ketiga korban itu adalah Kepala Distrik Torere Obaja Froaro dan juga 2 anggota polisi yakni Brigpol Sinton Kabarek dan H. Nusi. Keduanya adalah anggota Polres Puncak Jaya. Insiden penembakan pada petugas pengamanan pilkada gubernur Papua tersebut pasalnya terjadi ketika kepala distrik Torere bersama dengan 9 anggota Polri yang mana dipimpin oleh Ipda JH tengah membawa surat suara. Mereka menumpang perahu motor. akan tetapi di tengah perjalanan, mereka diadang dan akhirnya ditembaki oleh orang yang tak dikenal.

Selain menyebabkan 3 orang meninggal dunia, penembakan tersebut juga sempat mengakibatkan 3 anggota polisi tak diketahui nasibnya sampai hari Kamis (28/6) lalu. sementara 4 anggota yang lainnya dinyatakan selamat dari penembakan yang sangat brutal dan naas itu.

Brigadien Sinton Tewas

“Satu personel sudah ketemu, yang bersangkutan gugur,” ungkap Kapolri Jenderal Tito Karnavian tepatnya di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, hari Senin (2/7) ini.

Tito juga menceritakan bahwa sudah terjadi sebuah penyerangan di 2 perahu yang mana membawa logistik pilkada. Di perahu yang pertama ada kepala distrik, satu anggota polisi dan pendeta. “Di perahu yang kedua ada 3 anggota polisi. Lalu yang ditembak adalah perahu depan dan juga kepala distrik gugur,” lanjutnya.

Sementara itu, 2 anggota polisi dan juga 1 pendeta melompat ke arah sungai. Ketiga orang itu sempat dinyatakan hilang. Sisanya orang yang ada di perahu merapat ke bibir sungai untuk perlawanan. “Namun kita tak tahu ini karena keadaannya hutan belantara. Kita tak tahu dari arah mana kah tembakannya,” ujar Tito lagi.

Sejauh ini, yang masih hilang adalah satu orang polisi dan juga satu orang pendeta. Tito sendiri berharap keduanya bisa ditemukan segera. Untuk anggota yang gugur, maka Tito menaikkan pangkatnya dan juga mengucapkan belasungkawanya. “Yang meninggal dunia kita perlakuan gugur dalam tugas dan kita akan naikkan pangkatnya. Saya juga sudah bilang pada Kapolda supaya diberikan atensi pada keluarganya,” tegasnya lagi.

Sebelumnya, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Irjen Pol Setyo Wasisto menyebutkan penyerang di Torere ini berkaitan dengan penyerangan yang sudah dilakukan sebelumnya di Nduga. Penyerangan ini pasalnya sengaja dilakukan untuk menunjukkan eksistensi kelompok bersenjata itu. “Artinya mereka ini memanfaatkan momen ini untuk mengganggu dan juga menunjukkan eksistensi mereka. semua orang tahu bahwa semuanya sibuk dengan Pilkada Serentak maka mereka melakukan kegiatan supaya mereka dikenal dan makin eksis,” ujarnya lagi.

Sekarang ini, aparat gabungan TNI dan Polri masih juga melakukan pengejaran pada kelompok yang mana disebut dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) itu. kapolri pun memastikan jumlah personel keamanan yang terus saja ditambah.

Read More

Tindakan kriminal masih banyak terdengar setiap harinya. Peristiwa yang baru saja terjadi adalah, seorang mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Asal Gatak, Jotangan, Mbayat, Klaten, Jawa Tengah, yang dibuang oleh pacarnya ke sungai di Bantul. Bernasib mujur, mahasiswi yang bernama Septiana (20 tahun) berhasil diselamatkan oleh warga pada hari Senin (29/1/2018) pukul 02.00 WIB dini hari. Korban masih menggunakan pakaian lengkap, sandal bahkan helm, saat dilempar dari atas Jembatan Kretek, Bantul.

Korban Dibuang Pacarnya Ke Sungai Opak

Warga yang menolong Septiana adalah warga Kretek yang sedang melewati jembatan, Sumber Widodo (42 tahun) dan Wisni (29 tahun). Saat berada di atas jembatan, mereka mendengar teriakan yang meminta pertolongan. Ternyata sumber suaranya berasal dari bawah Jembatan Kretek. Setelah dilihat, asalnya dari korban. Septiana ditolong dengan menggunakan perahu dayung dan pelampung. Kemudian dia segera dibawa ke Puskesmas Kretek.

 

Pelda Jumakir yang merupakan anggota Koramil 13 Kretek membeberkan kronologinya. Awalnya dia memperoleh kabar mengenai penemuan perempuan yang tercebur di Sungai Opak, yang ada di bawah Jembatan Kretek.

Lansiran Tribunstyle dari Tribun Jogya,”Rekan saya mendapat kabar dari warga yang mengetahui korban berada di bawah sungai minta pertolongan,” jelasnya.

“Saya datang ke lokasi (Jembatan Kretek) pukul 02.45 WIB. Saat itu korban sedang diselamatkan tim dayung. Posisi korban tubuhnya terendam air dan tangannya memeluk tiang jembatan,” katanya di lokasi kejadian, Senin (29/1/2018).

“Kuat dugaan korban memang sengaja dibuang dari atas jembatan,” tambahnya.

Saksi lain Tego Suprapto (47 tahun) menceritakan, kalau dia sempat mendengar jeritan suara minta tolong, tapi dia takut karena mengira kalau suara itu bukan berasal dari manusia. Walaupun begitu, Tego akhirnya memberanikan diri untuk mencari sumber suara.

“Pas saya lihat, ternyata warga sedang evakuasi menggunakan dayung. Saya bantu dengan melemparkan tali untuk membantu menarik korban,” kata Tego.

Pasca evakuasi, korban membersihkan badannya di sumur depan rumah Tego.

“Setelah itu korban masuk ke dalam rumah saya. Saya kasih pakaian ganti,” jelasnya.

 

Sesaat kemudian korban result singapura segera dibawa ke Puskesmas Kretek untuk memperoleh perawatan medis. Motor milik korban ditemukan pagi hari pukul 05.30 WIB.

“Motornya (korban) jenis Supra ditemukan pagi, disebuah sungai kecil dekat lokasi penemuan korban,” kata Tego.

 

Tersangka Sudah Diamankan Polisi

Berdasarkan pernyataan Maya Shintowati Pandji selaku Kepala Dinas Kesehatan Bantul, Septiana yang dilempar ke Sungai Opak, yang berada di bawah Jembatan Kretek Bantul, sedang hamil sekitar 7 bulan. Namun, setelah memperoleh perawatan, keadaan mahasiswi dan janinnya telah membaik.

 

Di tempat terpisah, Kompol Leo Fasak, Kapolsek Kretek menuturkan kalau peristiwa tersebut bermula ketika korban diajak oleh pacarnya ke Parangtritis. Septiana berangkat seorang diri dengan mengendarai sepeda motor, sedangkan pacarnya mengendarai sepeda motor dengan temannya.

Di Mapolsek Kretek, Senin (29/1/2018), Leo menjelaskan,”Korban ini berangkat dari Klaten ke Parangtritis.”

Namun, hujan turun sebelum mereka sampai di Parangtritis. Kemudian korban dan pacarnya berhenti di atas jembatan. Setelah itu, terjadi pertengkaran.

“Korban akhirnya jatuh ke Sungai (Opak). Iya (dijatuhkan),” ungkap Leo.

 

Menurut penuturan Septiana kepada pihak polisi, dia sengaja dibuang oleh pacarnya. Dan Kapolres Bantul, AKBP Sahat M Hasibuan pada Selasa pagi (30/1/2018) memberitahukan kalau 2 tersangka telah berhasil diamankan di Mapolsek Kretek. Tersangka tersebut berinisial S dan Y.

 

Melalui pesan singkat kepada detikcom, Selasa (30/1/2018), Sahat mengkonfirmasi hal itu,”Benar (ditangkap).”

“Sementara ini (tersangka) masih dimintai keterangan,” katanya.

Read More