Aktifis Ragukan Keseriusan UU ITE

Para aktifitas yang giat di dalam kebebasan berpendapat dan media sosial telah memberikan masukan kepada tim kajian UUD ITE atau Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik yang telah dibentuk oleh pemerintah. Dalam masukannya, sejumlah aktifis tersebut memberikan banyak pertanyaan deposit pulsa tanpa potongan sekaligus mulai merasa ragu dengan janji revisi hingga bayang bayang ancaman atas aturan yang dibuat oleh undang undang tersebut. Mereka sangsi dengan apa yang telah dijanjikan oleh tim tersebut selama ini.

Aktifis Ragu UU ITE akan bisa Optimal

Keraguan dari berbagai aktifis muncul termasuk dari Ismail Fahmi yang merupakan Pendiri Drone Emprit. Dirinya mengungkapkan bahwa keraguan muncul terkait dengan keseriusan revisi UU ITE yang kini sedang terus dikaji. Ismail merupakan salah satu dari banyaknya nara sumber yang berasal dari pegiat media sosial yang telah diundang oleh Tim Kajian Revisi UU ITE yang telah dibentuk oleh Kementrian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Kemenko Polhukam) beberapa waktu yang lalu atas dasar keamanan bermedia sosial.

Mahfud MD menjadi pembentuk tim kajian UU ITE dan telah menerima banyak aspirasi dari pegiat media sosial dan kebebasan berpendapat melalui media daring. Ismail Fami menjelaskan bahwa dari analisa media sosial, publik memberikan respon yang cukup baik atas rencana pemerintah untuk melakukan revisi terhadap Undang undang ITE. Akan tetapi masyarakat pun ragu apakah revisi tersebut akan bisa diwujudkan atau tidak mengingat banyak hal yang harus dibenahi dan disesuaikan dengan budaya masyarakat Indonesia.

Keraguan dari publik harus bisa menjadi sebuah tantangan untuk pemerintah sehingga bisa menjadi lebih serius dalam menindak lanjuti pernyataan yang sudah disampaikan oleh presiden. Bukan hanya cukup dengan membuat petunjuk implementasi tetapi juga dengan cara membuat revisi sesuai dengan banyak masukan yang diberikan oleh berbagai pihak. Salah satu diantaranya adalah dari para aktifis dan pegiat kebebasan berpendapat, ataupun dari pegiat media sosial yang sudah banyak terlihat di permukaan.

UU ITE Jadi Polemik di Masyarakat

Sejak awal kehadiran UU ITE di masyarakat, banyak pro dan kontra yang bisa terlihat di media sosial. Ismail Fahmi bersama dengan beberapa narasumber lain meyakinkan bahwa revisi yang akan dilakukan terhadap UU ITE adalah hal penting dan perlu dilakukan secepat mungkin. Seirama dengan pendapat Ismail Fahmi, Damar Juniarto sebagai Direktur Eksekutif ASFEnet pun mengatakan bahwa revisi UU ITE perlu dilakukan untuk memberikan perlindungan terhadap hak yang dimiliki masyarakat di dunia digital.

Aturan yang ada di dalam UU ITE sekarang belum bisa memberikan rasa aman dan keadilan bagi masyarakat. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh CSIS disebutkan bahwa muncul temuan sejumlah permasalahan dan kasus akibat UU ITE yang mengandung pasal yang membuat kerugian terhadap pihak masyarakat pengguna media sosial. Dari riset tersebut dapat dilihat bahwa undang undang ini memberikan banyak konsekuensi yang tidak diinginkan bahkan dampak sosialnya menjadi sangat luas seperti untuk memberikan sanksi sosial, balas dendam, shock theraphy, dan lain sebagainya. Tim kajian UU ITE melalui kepalanya, Sugeng Purnomo mengatakan bahwa pihaknya menerima saran dan masukan dari narasumber. Semua saran dan masukan akan dikumpulkan dan dijadikan sebagai laporan untuk ditindak lanjuti. Sesuai dengan jadwal yang sudah disepakati sebelumnya, p=tim kajian akan kembali melakukan diskusi dan akan mendengarkan banyak masukan dari pihak pihak unsur media sosial di Indonesia.