Ulasan Film Susi Susanti: Love All

Perjuangan dan juga kerja keras pebulutangkis wanita legendaris, Susi Susanti, digambarkan dalam sebuah biopic yang pasalnya cukup apik. Film yang diberi judul Susi Susanti: Love All ini tak Cuma bercerita soal perjalanan hidup sang legenda bulutangkis Indonesia bahkan dunia itu, namun juga menjadi sebuah bentuk pengetahuan tersendiri tentang sejarah akan pentingnya berjuang untuk Indonesia tanpa banyak .menggurui. bagaimana kah secara garis besar film ini?

Ulasan Singkat Susi Susanti: Love All

Di satu sisi lainnya, film garapan sutradara Sim F ini pun menyuguhkan gambaran pahitnya kehidupan etnis China di era Orde Baru yang dialami oleh Susi sendiri.

Susi Susanti (Laura Basuki) tumbuh di tanah kelahirannya, di Tasikmalaya bersama dengan orang tua dan juga satu kakaknya, Rudy. Ibu Susi adalah seorang penjual bakpau. Sedangkan sang ayah, Rishad Haditono (Iszur Muchtar) adalah mantan atlet PON.

Kisah film Susi Susanti: Love All ini dibuka dengan adegan Susi Susanti kecil (Moira Tabina Zyan) yang kabur saat dirinya harus menari balet di panggung 17an. Ia memilih menonton kakaknya bertanding bulutangkis yang berakhir dnegan kalah dan diejek-ejek oleh lawannya.

Tidak terima akan perlakukan yang diterima oleh sang kaka, Susi kemudian menantang sang juara bertahan bulutangkis di Tasikmalaya itu untuk bermain dengan dirinya. Akhirnya Susi kecil sukses melumpuhkan lawannya. Kemudian kemenangan itu mengantarkannya ke tawaran berlatih di PB Jaya Raya. Pertandingan yang tidak direncanakan tersebut membuka kiprah Susi Susanti di dunia pebulutangkisan Indonesia, bahkan dunia.

Adegan demi adegan dalam film ini menggambarkan bagaimana kerja keras Susi memenuhi ambisi menjadi nomor satu. Ia mengumpulkan emas yang dijanjikannya pada sang ayah. Dalam usahanya, Susi mendapat sokongan termasuk dari idolanya, Rudy Hartono (Irwan Chandra) yang memberinya pesan bahwa bakat saja tak cukup, namun butuh kerja keras dan kedisiplinan.

Ketika menginjakkan kakinya di Pelatnas PBSI, Susi dibimbing keras oleh pelatih Liang Chiu Sia (Jenny Zhang Wiradinata). Ia adalah bekas eksil di China yang mana didatangkan dengan Tong Sinfu (Chew Kin Wah) oleh Ketua PBSI saat itu. Try Sutrisno (Farhan) untuk mendongkrak prestasi bulutangkis di Indonesia. target yang pertama adalah mengontongi emas di ajang Sudirman Cup perdana yang digelar di Jakarta, 1989.

Gemblengan Sia sukses-sukses membuat Susi Susanti mendapatkan pengakuan internasional setelah memenangkan medali emas pertamanya di Olimpiade untuk Indonesia tepatnya di Olimpiade Barcelona 1992.

Di sisi lainnya, film Susi Susanti: Love All ini juga menampilkan masa-masa saat dirinya menemukan tambatan hatinya yang juga berprofesi sama dengannya, Alan Budikusuma (Dion Wiyoko) di Pelatnas.

Bisa dikatakan secara garis besar, film yang memberi gambaran hidup Susi Susanti pada era 80-an sampai dengan 90an dengan cukup baik. Selain memberikan gambara drama perjuangan Susi sebagai legenda bulutangkis, film ini dibumbui dengan kisah romansa di masa itu juga.

Sim F bisa dikatakan cukup berhasil mengemas film ini namun sayangnya adegan puncak yaitu saat Susi meraih kemenangannya di Barcelona tahun 1992 ini terasa nanggung rasanya. Ada bagian toto singapura yang tasanya tidak tuntas, tidak sedramatis momen aslinya atau bahkan trailer yang ditayangkan lebih awal.

Walaupun Susi Susanti tidak ikut dilibatkan secara pribadi, namun film ini bisa menggambarkan bentuk sejarah yang dikemas dengan sangat menarik. Bahkan dapat dikatakan jadi kesegaran dalam membangkitkan rasa nasionalisme menjelang momen Sumpah Pemuda kemarin.